FINKS: Bagaimana CIA Mengelabui Para Penulis Besar Dunia

Rp150.000

Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, Utuy Tatang Sontani, Dodong Djiwapradja menjadi delegasi Indonesia untuk Konferensi Pengarang Asia–Afrika di Tashkent pada bulan Oktober 1958. 

Apa yang terlintas di pikiran ketika melihat patung Wisnu menunggangi garuda di Universitas Airlangga atau Jendral Sudirman di depan Gedung DPRD Yogyakarta?

Pada 31 Oktober kami akan berbincang bersama kawan-kawan Bandung Readers Festival. Acara festival literasi Bandung ini mengundang kami untuk membicarakan perihal penerbitan buku perdana kami, Komitmen Sosial dalam Sastra dan Seni: Sejarah Lekra 1950–1965  yang ditulis oleh Keith Foulcher.

Keith Foulcher

Keith Foulcher adalah Honorary Associate di Departement of Indonesian Studies, University of Sydney, Australia. Spesialisasinya melingkupi sastra Indonesia modern dan sejarah kebudayaan, terutama akhir periode kolonial dan awal kemerdekaan. Publikasi mutakhirnya, Indonesian Notebook: A Sourcebook on Richard Wright and the Bandung Conference (bersama Brian Russell Roberts, Duke University Press, 2016). Bersama Mikihiro Moriyama dan Manneke Budiman, ia juga mengeditori Words in Motion: Language and Discourse in Post-New Order Indonesia (National University of Singapore Press, 2012), dan bersama Tony Day Clearing a Space: Postcolonial Readings of Modern Indonesian Literature (KITLV Press, 2002).

Joel Whitney

Joel Whitney adalah manajer program seni dan budaya di Brooklyn Public Library’s. Ia adalah salah satu pendiri Guernica: A Magazine of Art and Politics, yang membuatnya mendapatkan penghargaan PEN/Nora Magid Award (2017). Ia juga mengajar di Fordham University, Cooper Union, John Jay College, dan Writer’s Foundry MFA program di St. Joseph’s College. Tulisan-tulisannya dimuat dalam sejumlah media, seperti The New York Times, The Wall Street Journal, The Village Voice, Salon, Jacobin, dll.